Pagerungan Kecil, Pulau Kaya Migas, yang Masih Berjuang Mendapatkan Listrik 24 Jam


Pagerungan Kecil, sebuah pulau kecil di Kabupaten Sumenep, Madura, yang kaya migas (Blok Kangean). Gas di pagerungan ditemukan tahun 1985 dan mulai berproduksi pada tahun 1994 (Kangean, 2026). Pulau ini kini menjadi sorotan berkat keberhasilan proyek energi terbarukan. Kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menopang kehidupan warga dalam mendapatkan aliran listrik yang sebelumnya hampir tidak ada (Media Indonesia, 2026). Sebelum adanya PLTS, keluarga yang mampu membeli PLTD (genset) berkapasitas sekitar 2000 Watt, namun biaya listriknya sangat mencekik: dengan daya 4 Ampere, warga harus membayar hingga Rp435.000 per bulan. Durasi penerangan pun terbatas; rata-rata hanya sekitar 5 jam di malam hari pada 2024 (Energindo, 2024). Jika keluarga tersebut tidak mampu menggunakan PLTD atau genset, satu-satunya pilihan mereka adalah lampu minyak tanah. Itulah gaya hidup “berdamai dengan kegelapan” warga sebelum EBT hadir.

Sejarah pengadaan panel surya di Pagerungan Kecil dimulai pada 2021 ketika PLN membangun PLTS terpusat berkapasitas 50 kWp sebagai bagian dari program elektrifikasi kepulauan (Pertamina Foundation, 2022). Kapasitas ini hanya mampu melayani sebagian kebutuhan dasar, namun menjadi langkah awal penting bagi masyarakat yang sebelumnya hampir tidak memiliki akses listrik. Pada 2022–2024, Pertamina Foundation bersama mitra CSR mendukung proyek hybrid PLTS–PLTB yang memasok listrik ke fasilitas publik seperti balai desa, puskesmas, dan sekolah (Pertamina Foundation, 2022).

Selain PLTS, Pagerungan Kecil juga mendapat dukungan pengadaan turbin angin atau PLTB oleh Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) pada tahun 2023 melalui Program Pengabdian Masyarakat Skema Dana Padanan. Menurut Nu Rhahida Arini, ketua proyek turbin angin Pagerungan Kecil, turbin angin tersebut menghasilkan output total 1 kW dan dipasang di dermaga barat Pagerungan Kecil untuk mendukung kebutuhan pendinginan gudang ikan yang dikelola oleh BUMDes Paddalleante. Program ini menjadi inisiasi yang dilanjutkan oleh konsorsium penelitian internasional yang bertujuan menjadikan Pagerungan Kecil sebagai pulau mandiri EBT (Energindo, 2024; Media Pribumi, 2024; Pagerungankecil.com, 2025).

Turbin angin (PLTB) BUMDes Paddalleante Pagerungan Kecil. (Sumber: Dokumentasi penulis)

Baru pada Maret 2026, Pemerintah Kabupaten Sumenep bersama PLN, Yayasan Torang IWIP Berbakti, dan Danantara Indonesia menandatangani hibah pembangunan PLTS berkapasitas 2 MWp dengan Battery Energy Storage System (BESS) 4 MWh, yang ditujukan untuk melistriki sekitar 2.000 kepala keluarga di Pagerungan Kecil dan Gili Labak (MEMO Online, 2026; Jakarta Globe, 2026). Menurut kesaksian Abdul Rahim, Bendahara Desa Pagerungan Kecil, ketika ditemui secara langsung pada Juli 2026, proyek tersebut direncanakan akan mulai dilaksanakan pada paruh kedua tahun ini.

Dampak sosial-ekonomi dari proyek energi surya ini sangat signifikan. Listrik yang lebih stabil mendukung kegiatan pendidikan, layanan kesehatan, hingga usaha mikro di pulau tersebut, termasuk usaha seperti BUMDes dan toko kelontong di pulau tersebut (Media Indonesia, 2026). Selain itu, sistem PLTS dan PLTB ini mampu mengurangi ketergantungan pada PLTD berbahan bakar solar, sehingga PLN dan pemerintah daerah dapat menghemat penggunaan bahan bakar hingga 1,1 juta liter per tahun (Jakarta Globe, 2026). Bupati Sumenep menekankan bahwa percepatan elektrifikasi di kepulauan merupakan kebutuhan mendesak, dan Pagerungan Kecil kini menjadi model percontohan nasional dalam pemerataan akses energi bersih (Media Indonesia, 2026).

Beberapa panel surya (PLTS) di rumah-rumah warga di Pagerungan Kecil. (Sumber: Dokumentasi penulis)

Berdasarkan pengalaman di lapangan, banyak rumah warga di Pagerungan Kecil yang telah dipasangi panel surya, mulai dari ukuran kecil untuk kebutuhan penerangan dasar hingga panel berukuran besar yang dipasang di atap rumah (Pertamina Foundation, 2022). Inisiatif ini sebagian dilakukan secara swadaya oleh warga, sebagian lagi melalui dukungan program CSR dan bantuan pemerintah. Meski demikian, kapasitas panel surya rumah tangga ini masih terbatas dan belum mampu menjamin pasokan listrik yang konsisten sepanjang hari (Energindo, 2024).

Namun, di balik keberhasilan tersebut, masih terdapat masalah yang belum terselesaikan. Meski beberapa fasilitas publik seperti Kantor Kepala Desa dan sejumlah masjid sudah mendapat pasokan listrik, berdasarkan pengamatan di lapangan, masih banyak rumah yang tidak dialiri listrik 24 jam. Hingga hari ini, suplai listrik ke seluruh Pagerungan Kecil masih dijatah hanya dua jam per malam untuk setiap dusun. Pulau yang terdiri dari tiga dusun dalam satu desa besar itu mendapat giliran bergantian: dua jam untuk dusun pertama, kemudian dua jam untuk dusun kedua, dan dua jam untuk dusun ketiga. Begitu fajar menyingsing, sekitar jam 6 WIB, listrik sama sekali berhenti untuk semua rumah di pulau itu, kecuali bagi warga yang rumahnya sudah dipasangi PLTS atau panel surya (Energindo, 2024). Hal ini diperkuat oleh testimoni seorang ibu penjual kebutuhan sehari-hari yang berkata, “setelah sekian lama tidak pakai lampu,” ketika tim dari PENS dan Polman Bandung menyampaikan rencana pemasangan pembangkit listrik arus air dan angin (Energindo, 2024). Namun, jawaban lanjutan beliau menunjukkan kebingungan, mencerminkan betapa listrik masih belum pasti hadir dalam kehidupan sehari-hari warga Pagerungan Kecil.

Selain itu, Ruslan, Kepala BUMDes Paddalleante Pagerungan Kecil, dalam liputan Energindo (2024), menuturkan bahwa listrik dari PLTS dan PLTB memang membawa perubahan ekonomi, seperti berdirinya pabrik mini es dan usaha kuliner berbahan ikan laut segar (Energindo, 2024). Namun, ia juga mengakui bahwa pasokan listrik belum sepenuhnya merata ke rumah warga. Bahkan, Husna (40), warga Pagerungan Kecil, dalam liputan Suara Indonesia (2024), mengeluhkan listrik yang hanya menyala sekitar 4 jam di malam hari (Suara Indonesia, 2024), sementara tokoh agama Muhammad Makki, pengasuh Pondok Pesantren Darul Musyawirin, berharap agar pasokan listrik bisa lebih maksimal (Suara Indonesia, 2024).

Pagerungan Kecil telah menapaki jalan menuju energi terbarukan dengan hadirnya PLTS dan PLTB. Panel surya sudah banyak terpasang, fasilitas publik mulai terang, dan aktivitas ekonomi perlahan tumbuh. Namun, paradoks tetap nyata: banyak rumah warga belum menikmati listrik 24 jam penuh (Suara Indonesia, 2024).

Suara warga, tokoh masyarakat, dan tokoh agama menunjukkan bahwa listrik masih menjadi kebutuhan mendesak yang belum terpenuhi. Karena itu, lembaga penyedia energi seperti PLN, pemerintah daerah maupun pusat, serta perusahaan energi yang beroperasi di Kepulauan Kangean—termasuk yang menyalurkan CSR untuk kelistrikan Pagerungan Kecil—perlu lebih serius memerhatikan kebutuhan listrik 24 jam bagi rakyat kecil (Media Indonesia, 2026). Aspirasi ini bukan sekadar tuntutan, melainkan hak dasar masyarakat untuk hidup layak dengan akses energi yang berkelanjutan.

https://www.kangean-energy.com/pagerungan-field/ Media Indonesia. (2026, March 17). Terangi Kepulauan Sumenep Hibah PLTS 2 MWp Sasar 2.000 Kepala Keluarga. Media Indonesia. MEMO Online. (2026, March 13). Pemkab Sumenep Bangun PLTS 2 MW di Pulau Pagerungan Kecil dan Gili Labak Jelang Lebaran 2026. MEMO Online. Energindo. (2024, August 27). Perjuangan Warga Pagerungan Kecil Wujudkan Desa Mandiri Energi. Energindo. Jakarta Globe. (2026, March 16). PLN Ready to Supply Clean Energy to Sumenep. Jakarta Globe. Pertamina Foundation. (2022, December). PF Sains Mendukung Desa Mandiri Energi Pagerungan Kecil. Pertamina Foundation. Suara Indonesia. (2024, August). Warga Pagerungan Kecil Berharap Listrik Menyala 24 Jam. Suara Indonesia. Media Pribumi. (2024, June). PENS dan Konsorsium Internasional Kembangkan Energi Terbarukan di Pagerungan Kecil. Media Pribumi. Pagerungankecil.com. (2025, January). Konsorsium Energi Baru Terbarukan di Pagerungan Kecil. Pagerungankecil.com.